Jingga, Senja, dan ombak yang telah lelah
Apakah rindu sama seperti senja, bisa menghilang lalu
diganti bintang, atau mungkinkah rindu lebih dari sekedar senja, tetap terang
meskipun telah beselimut malam. Aku tak tau,
yang pasti, saat ini
batas cakrawala jingga itu terasa lebih jauh, meskipun seperti biasanya,jarak
cakrawala dari dulu tak pernah berubah,tapi saat ini , diujung senja ini,
cakrawala seperti merangkakak menjauh, mungkin dia merasakan kalau indahnya
sedang ku pinjam untuk mengandai mu, lihatlah, bahkan jingga pun tak mau
menampung rindu, lantas apa alasan mu membiarkan ku merindu lagi lagi dan
lagi..
Meski senyummu lebih menenangkan dari warna jingga ini,
bukan berarti aku sanggup menahan rindu lebih lama untuk melihatnya, aku hanya
takut, jika disenja senja selanjutnya aku tak lagi bisa hanya berkawan desir
ombak,sendirian.
Aku takut, jika di ujung senja di hari depan, aku tak bisa
lagi mengingat dengan jelas bagaimana garis garis wajahmu, bagaimana lekuk bibir
tipismu sebab terkikis ombak sore yang tampak lelah ini.
Aku bahkan sangat khawatir jika tawamu tergema debur ombak
yang renta ini, renta,, mungkin sama
renta nya dengan perasaan yag terlalu lama menahan rindu..
Cepatlah datang, jangan bairkan debur ombak dan cakarawala
sore ini lambat lambat menggantikan tawamu, jangan biarkan angin senja ini
memeluk tubuh yang renta sepanjang waktu.
Cepatlah datang, dan duduk disampingku, bairkan aku
mengamati lekat lekat setiap jengkal garis wajahmu.
biarka aku mengingat
ingat setiap lekuk disudut bibirmu saat kau terseyum, dan menyimpannya rapat
rapat jauh ditempat yang tak akan bisa dicuri oleh ombak, jingga, maupun cakrawal senja ini,
...Cepatlah datang...
Komentar
Posting Komentar