Angin sore berhembus cukup kencang
ketika dua remaja laki-laki menyusuri jalan setapak di tengah pematang dengan
hamparan padi yang mulai menguning.
Remaja yang berusia sekitar 16-17
tahun itu tampak santai berjalan beriringan. Suasana desa sore itu memang menentramkan,
matahari hampir habis dan mulai beranjak
ke peraduan. Di jalan setapak yang mereka lewati, sesekali lewat satu-dua
sepeda motor dari masyarakat sekitar--yang harus membuat mereka menepi hingga
naik ke atas pembatas selokan di sepanjang tepian sawah.
Banu, remaja berbadan gemuk dengan
wajah bulat yang membuat siapa pun akan tertawa karena tingkahnya yang ceplas
ceplos dan lugu, berjalan perlahan mengikuti sahabat yang ada didepannya.
Namun menurut Sa`id--remaja tinggi
dengan perawakan kurus dan rambut gondrong yang berjalan di depan--Selalu berfikir
bahwa Banu merupakan teman yang mengasikkan, meskipun karena keluguannya,
banyak teman-teman yang lain menganggapnya “bodoh”, tapi bagi Sa`id, Banu
adalah sahabat yang baik.
“Modar aku!, ngko bengi Abah Yai sing
ngulang ngaji, kitab Taqrib ku durung enek maknane blas, pie iki ngko lek di
kon moco?!”.
( “mampus aku, malam nanti Abah
Kiai yang akan mengajari kita mengaji, Kitab Taqrib ku belum aku artikan sama
sekali, gimana nanti kalau disuruh baca?!”
dengan logat Jawa yang begitu kental,
Banu berucap dengan nada cemas sambil terus berjalan dibelakang Sa`id.
“podo,
gonaku jugak, minggu wingi pas ngaji mataku ngantuk tenan, dadi gak nyimak opo
sing diomomongne Abah Yai,hehe”,
( “sama,
punyaku juga, minggu lalu waktu ngaji aku ngantuk banget, gak terlalu
nyimak apa yang dibaca Abah Yai, hehe’’ ).
”Wayahe ket wingi awak dewe nembel
maknane karo arek-arek ae yo?!”.
(“Harusnya dari kemarin-kemarin kita
menambal artinya ke teman-teman yang lain aja ya?!”)
“yo koe goblok sih, ket wingi tak jak’i turu pondok,
ben dewe iso nembel makna neng arek-arek, tapi malah gak gelem”.
(“Ya kamu bodoh sih, dari kemarin aku
ajakin menginap di Pondok biar kita bisa nembel ke teman-teman disana, malah
gak pernah mau”).
Jawab Sa’id santai.
“Yo koe nyapo arep turu nang pondok
ae dadak ngajak-ngajak’i aku mbarang?, mangkat dewe kan iso”.
(“Ya kamu ngapain mau tidur pondok
aja harus ngajak-ngajak aku, berangkat sendiri kan bisa”).
“Lek aku turu neng pondok dewean, ngko
awak mu mesti garek nyontek hasile neng aku, yo kepenak’an awakmu!”.
(“Kalau
aku tidur di Pondok sendirian, yang ada nanti kamu tinggal nyontek hasilnya dari
aku tanpa harus susah payah digigitin nyamuk karena tidur dipondok, ya keenakan
kamu!’).
Jawab Sa’id
dengan Nada tinggi sambil terus berjalan didepan tanpa menoleh kearah Banu yang
ada dibelakangnya.
***
Setelah lulus SMP didesa mereka, Sa’id
dan Banu tidak melanjutkan ke SMA.
Banu, memilih berhenti sekolah dengan
alasan; menurutnya pelajaran SMA pasti sulit-sulit, dan dia tidak akan bisa,
terlebih lagi, dia memang tidak suka belajar.
Berbeda dengan Sa’id, dia sebenarnya
sangat tergila-gila dengan pendidikan, dia sangat penasaran dengan ilmu-ilmu
baru, meskipun dia sangat pemalas, tapi dia terbilang cukup pandai.
Namun karena dia terlahir dari
keluarga miskin, impian untuk meraih ilmu-ilmu baru di SMA atau pendidikan
formal lainnya harus dia kubur dalam-dalam.
Didesa mereka ada seorang Kiai yang
sangat di hormati oleh warga desa yang lain, Pak Khoiron namanya, untuk
menghormati beliau, para santri dan penduduk desa memanggilnya dengan sebutan
“Abah Yai”. beliau mendirikan sebuah Pondok Pesantren kecil guna menyediakan
tempat untuk anak-anak desa belajar mengaji dan ilmu agama.
Dengan beberapa bilik asrama yang
digunakan untuk para santri yang bermukim atau datang dari desa yang jaraknya
agak jauh dari pesantren, Mereka bisa tinggal disana. Dan tak sedikit juga
santri yang “Ngalong”--yaitu anak-anak desa sekitar yang hanya pergi mengaji
dari magrib hingga selesai isya, tanpa bermukim di asrama pesantren. Selain
mengajarkan Membaca Al-Quran, di pesantrennya, Kiai Khoiron juga mengajarkan
berbagai macam kitab kuning, mulai dari Ilmu Fikih, Hadist, Nahwu dan Akhlak.
Sa’id yang semula sudah tergila-gila
dengan ilmu pengetahuan, setelah lulus SMP dia langsung masuk ke pesntren Kiai
Khoiron dan belajar disana. Menurutnya, dipesntren ini dia bisa mendapat
ilmu-ilmu baru tanpa harus sekolah formal dan tentu dengan biaya yang cukup
mahal, sedangkan disini dia hanya cukup membayar Rp. 10.000 perbulan. Dan
dipesantren ini juga dia bertemu dengan Banu.
Suara Azan magrib mulai menggema dari
masjid yang berada di ujung pematang, Sa’id dan Banu mempercepat langkah mereka
yang sesekali bersalipan dengan masyarakat sekitar yang juga akan salat berjama’ah.
“Monggo pak?” ( Mari pak?”) sapa
mereka ramah ketika ada warga desa yang melintas.
“ ya Monggo le”. (Ya mari nak).
Masjid kecil itu hampir penuh terisi
oleh para jama’ah, yang kebanyakan para Santri yang mengaji pada Kiai Khoiron,
ada juga beberapa dari warga sekitar masjid.
Sisa air wudhu masih menetes di wajah
Sa’id saat dia mengikuti gerakan imam melakukan Takbiratul Ikhram. Dia sengaja
tidak mengelap sisa air wudhu diwajahnya semenjak mendengar ucapan Kiai Khoiron
tempo hari; “ sisa air di wajah orang
yang berwudhu, kelak dihari kiamat akan menjadi cahaya yang membuat wajah
mereka bersinar “.
Begitulah ucapan Kiai Khoiron yang
masih diingatnya dengan jelas. Tapi didalam hatinya, Sa’id sama sekali tak
tertarik dengan cerita iming-iming pahala sekian jika melakukan ini itu, akan
mendapat pahala jika meninggalkan hal yang dilarang, dan lain semacamnya.
Menurutnya, mengharapkan sesuatu/pahala dari Allah karena telah mengerjakan
atau meninggalkan sesuatu, adalah hal yang memalukan. Dia pernah membicarakan
hal ini dengan Banu di suatu malam ketika mereka pulang mengaji.
“Orang-orang sekarang ini serakah-serakah
semua ya?!”
“Serakah yok opo karepmu?”. (Serakah
gimana maksudmu), tanya Banu penasaran.
“Coba kamu lihat di masjid tadi,
gara-gara di pengajian Kliwonan kemarin Abah Kiai bilang, “kalau kita salat
dengan menggunakan sorban, maka akan mendapat pahala yang lebih banyak, karena
Kanjeng Nabi juga memakai sorban”. Sekarang jadi banyak orang yang mengenakan
sorban saat salat, ada yang dililitkan dikepala hingga besar, ada yang
dikalungkan di leher, macam-macamlah!”. Ucap Sa’id panjang lebar dengan nada
ketus.
“ Ya terus di mana letak
serakahnya?”. Banu masih belum memahami ucapan Sa’id.
Sa’id menarik nafas panjang sebelum
melanjutkan penjelasannya, “ mereka itu salat sambil mengenakan sorban Cuma
karena ingin dapat pahala yang banyak, mbok ya o kalau salat itu ya
sudah salat aja, salat sebagai bakti kita kepada Allah, sebagai rasa syukur dan
terima kasih kita kepada Allah, salat itu buat memperjelas status kita sebagai hamba
nya Allah, salat itu memang wajib kita lakukan, namanya kewajiban kok mau
nuntut imbalan, mbok Ndak usah ngarep ngarep pahala, lha wong kita gak minta
pahala pun, Allah sudah baik ngasih kita rejeki yang begitu banyak, la kok
masih aja kurang dan minta-minta tambahan pahala lagi, mbok ya udah bersyukur
gitu lho”.
“Kamu ini dari tadi Cuma mbak mbok
mbak mbok terus”. Sahut Banu santai.
Sa’id hanya mendengus.
“Tapi kan itu anjuran dari Kiai
langsung lho, ya biarin aja”. Lanjut Banu.
“ ini nih, yang bikin aku prihatin
sama orang-orang sekarang”. Jawab Sa’id. “Mereka suka menelan mentah-mentah
informasi yang mereka dapat, iya memang, memakai sorban saat salat itu adalah
hal yang baik, tapi kan yang sebenarnya ingin disampaikan Abah Khoiron saat itu
bukan tentang pahala memakai sorban, padahal Abah Yai itu ingin, kita ini hendaknya
meniru semua perilaku Kanjeng Nabi dan menerapkannya di kehidupan sehari hari,
tapi bukan meniru yang lahiriahnya saja, dan yang paling penting itu meniru akhlak
beliau juga, tingkah laku beliau, cara beliau memperlakukan sesama, itu
sebenarnya yang harus kita tiru”.
Terang Sa’id panjang lebar kepada
Banu yang sedang berjalan didepan sambil membawa senter.
“ ah sudahlah, kamu aja yang berfikir
tidak-tidak tentang mereka, kan tidak apa-apa mereka salat mengenakan sorban
mengikuti Nabi, atau memakai peci hitam seperti kita ini. Yang penting mereka
salat tidak memakai helm”.
Banu tertawa kencang, Sa’id terkekeh
dan tak lagi menjawab pendapat temannya itu.
****
Kegiatan belajar mengajar malam itu
berakhir setelah menunaikan salat Isya berjamaah. Para santri yang “ngalong”
sedikit demi sedikit mulai pulang kerumah masing masing.
Jalan setapak di pematang sawah kini
dipenuhi cahaya senter dari para santri yang berjalan pulang.
Banu yang berjalan didepan Sa’id
smbil membawa senter, mulai berbicara;
“ Minggu besok Pak Samuri dan
istrinya akan berangkat Haji loh, kamu udah tahu belum?”.
“Pak Samuri yang Bos ayam itu?”.
“Iya, siapa lagi Samuri dikampung
kita selain Samuri si bos ayam?”. Jawab Banu santai tanpa rasa berdosa karena
seenaknya memanggil Samuri, tanpa menggunakan “Pak”.
“Aku dengar dia juga mengundang
orang-orang kampung untuk Tasyakuran mengiringi keberangkatannya ke Tanah Suci
besok”. Lanjut Banu dari depan.
“Enak ya, kalau orang kaya bisa naik
Haji, sedangkan kita, bayangin Mekah itu seperti apa, kadang gak berani”. Banu
masih terus berbicara.
Angin yang berhembus cukup kencang
membuat gesekan lembut pada daun-daun padi di kiri dan kanan jalan setapak yang
mereka lalui, Sa’id yang berjalan dibelakang melipat tangannya ke dada, menahan
dingin.
“Kata Abah Yai, saat menjalankan
ibadah haji, disana nanti kita akan dapat balasan atas perilaku dan perbuatan
kita sebelum berhaji loh”. Ucap Sa’id yang sedang mendekap tubuhnya sendiri
erat-erat. Kedinginan.
“Maksudnya?”, Banu menghentikan
langkahnya dan menoleh kebelakang, penasaran.
“Ya katanya, saat ditanah suci, kita
akan mendapat balasan atas perilaku kita semasa kita masih dirumah, saat kita
belum berangkat haji”.
“Siapa yang membalas?”. Kejar Banu.
“Allah lah, siapa lagi”.
“Aku gak mudeng”. (“Aku gak paham”).
Banu mengernyitkan dahi.
Sa’id semakin menguatkan dekapan
tangan ketubuhnya sendiri, “ Ya misalnya gini, kalau orang yang sedang berhaji
itu semasa dirumah merupakan orang yang baik, maka saat ditanah suci nanti dia
akan sering mendapatkan perlakuan yang baik dari orang lain, seringkali itu
dari orang yang tidak dia kenal sama sekali sebelumnya. Sering ditolong lah,
dan macem-macem. Tapi, kalau orang itu jahat, pelit misalnya, maka saat ditanah
suci sana, dia akan susah dapetin apa-apa, mau ini susah,mau itu sudah, rasanya
gak ada orang yang mau di mintain sesuatu atau dimintain tolong, begitulah”.
Jelas Sa’id sambil sesekali mengusap lehernya mengusir dingin.
“Serem juga ya ternyata”. Banu
berbicara sambil memelankan suaranya, membayangkan seolah-olah dia yang sedang
menjalankan ibadah haji dan mengalami hal itu.
“Kalau kamu punya cita-cita ke tanah
suci gak?”, tanya Banu mengalihkan pembicaraan tentang pembalasan-pembalasan
tadi.
“Ya jelas ada lah, aku juga pengen melihat
Ka’bah dari dekat, mencium Hajar Aswad, menikmati suasana Haramain”. Sa’id diam sebentar, seolah-olah
sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kalimat selanjutnya.
“ tapi ada hal lain yang sangat ingin
aku lakukan jika bisa pergi ke tanah suci”. Lanjutnya.
“Apa?”. Banu menoleh kearah temannya
itu, penasaran.
“ Aku ingin ke Makam Rasulullah”. Sa’id
memelankan suaranya, menatap jauh kedepan menembus gelapnya jalan pematang
didepan mereka itu, membayangkan seakan-akan dia memang sedang berada di Tanah
Suci, berdiri didepan Makan Rasulullah.
Dia melanjutkan, “Aku ingin sekali bersimpuh
disalah satu pintu Makam Beliau”.
Sa’id tersenyum kecil dan melanjutkan
hayalannya. “mungkin saat itu, tak ada lagi doa atau permohonan yang ingin aku
ucapkan, mungkin karena terlalu bahagianya, aku Cuma nangis, salat berapa
rekaat didepan Makam Beliau, lalu menangis lagi. Jika itu benar-benar terjadi,
aku tak tahu lagi betapa bahagia rasanya. Karena hanya dengan Melihat langsung
Makam Rasul, kita benar-benar bisa merasa sangat dekat dengan Beliau, dekat
dalam arti harfiah”.
Jalan di sepanjang pematang itu sudah
mulai sepi, cahaya senter dari santri santri yang lain sudah mulai hilang,
pertanda mereka telah sampai kerumah masing masing.
Mendengar ungkapan perasaan panjang
lebar dari temannya itu, membuat Banu terdiam, dia tak lagi bertanya dan
menjawab barang sedikit.
“ Rumahku sudah dekat, mau mampir
dulu gak?, Ibuk ku tadi membuat sayur asem”.
Tawaran mampir dari Sa’id sedikit
mengagetkan Banu dari lamunannya tentang Tanah Suci dan keinginan Sa’id soal
Makam Rasul tadi.
“Males lah, sayur asem terus, anyep!,
Ibukku tadi masak Ikan”. Ejek Banu.
Sa’id tertawa, dia sudah memasuki
halaman rumahnya saat Banu berteriak dari arah jalan. “ Oh iya, Besok siang aku
jemput ya!, kita ke Pesantren, kolam Ikan milik Abah Yai akan dipanen!.
“Siap!”. Jawab Sa’id yang kini sudah
berdiri di depan pintu.
Orang tua Sa’id sudah tertidur ketika
dia tiba di rumah, setelah mengunci pintu, segera dia masuk ke dalam kamarnya.
Kamar sa’id cukup sederhana, namun
terbilang rapih untuk ukuran remaja laki-laki. Disudut ruangan didalam kamarnya
terdapat sebuah lukisan yang belum selesai dan masih berdiri dengan penjepit
papan di atas dan di kedua sisinya. Sa’id meraih kursi dari tepi tempat tidur,
menyeretnya, kemudian dia duduk tepat didepan lukisan itu, lalu dipandanginya lekat
lekat.
Lukisan sebuah bangunan yang sangat
indah, dengan perpaduan warna hijau dan Kaligrafi Arab berwarna emas disetiap
sisi bangunan, menakjubkan.
Sa’id memandangi lukisan itu cukup
lama, lalu ia menarik nafas dalam-dalam, seperti meyakinkan sesuatu hal,
kemudian dengan mantap dia berucap, “Kelak aku pasti akan berada disana,
menangis karena bahagia, dan melihat sendiri setiap bagian dari bangunan itu,
agar aku bisa menyelesaikan lukisan ku ini, Ya Rasullullah, izinkan aku
menangis di dekatmu, didekat rumahmu”.
Kemudian ia tertidur diatas ranjangnya,
bermimpi tentang hamparan rerumputan hijau dengan angsa angsa emas.
end....
Komentar
Posting Komentar